Cianjur Jabar, agistanews.com – Kenaikan harga plastik diprediksi menjadi dampak lanjutan dari konflik di Iran, yang perlahan mulai dirasakan konsumen global. Para ahli memperingatkan, berbagai produk berbahan plastik akan mengalami kenaikan harga dalam waktu dekat.
Plastik sendiri sebagian besar dibuat dari minyak, yang harganya telah melonjak lebih dari 40% sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Profesor praktik rantai pasok di Syracuse University, Patrick Penfield, menyebut sejumlah produk seperti alat makan sekali pakai, minuman kemasan, hingga kantong sampah berpotensi menjadi yang pertama mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan ke depan.
Namun, penggunaan plastik yang luas dalam rantai pasok membuat sulit untuk menentukan secara pasti sumber kenaikan harga suatu produk.
“Ini salah satu kondisi di mana Anda hanya bisa menggelengkan kepala saat berbelanja. Anda tidak tahu apakah itu karena inflasi umum, kenaikan sewa, tetapi Anda tetap harus membayar lebih,” kata Joseph Foudy, profesor ekonomi di NYU Stern School of Business dikutip dari CNN, Selasa (7/4/2026).
Lonjakan harga plastik tidak lepas dari kenaikan harga minyak dan gas alam yang terjadi akibat gangguan pasokan energi global.
Salah satu pemicunya adalah ancaman terhadap jalur Strait of Hormuz, yang menjadi rute penting bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. ( I.***s )






0 komentar:
Posting Komentar