Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan yang digelar organisasi Banyu Raya. Alih-alih mengandalkan hiburan band atau dangdut, Banyu Raya memilih menghadirkan pertunjukan drama perjuangan, drama sosial, drama kehidupan, hingga kaulinan baheula.
Konsep tersebut menjadi pembeda Banyu Raya dalam setiap kegiatan tahunannya. Panggung hiburan tidak hanya dimanfaatkan untuk membuat masyarakat terhibur, tetapi juga menjadi media untuk mengingat jasa para pahlawan dan para pejuang sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional Sunda kepada generasi muda.
Tokoh Banyu Raya, Wandri Hariyan, mengatakan konsep drama memang menjadi ciri khas organisasi tersebut.
“Alhamdulillah, setiap tahun organisasi Banyu Raya ini berbeda dari yang lain. Kalau yang lain sudah biasa dengan hiburan band dan dangdut, Banyu Raya pasti drama selalu ditampilkan,” ujar Wandri.
Kaulinan Baheula Kembali Dihidupkan
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah diangkatnya berbagai kaulinan baheula ke dalam pertunjukan drama.
Permainan tradisional seperti paciwit-ciwit lutung, encrak, enggrang, loncat tinggi, sondah dan maen beklen dikemas secara kreatif menjadi bagian dari cerita.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk ngamumule budaya Sunda, terutama di tengah perkembangan zaman yang membuat permainan tradisional semakin jarang dimainkan oleh anak-anak.
Bagi Banyu Raya, budaya bukan sekadar sesuatu yang harus dikenang, tetapi perlu dihidupkan kembali melalui kreativitas dan keterlibatan generasi muda.
Drama Perjuangan Mengingatkan Jasa Para Pahlawan
Selain kaulinan baheula, drama perjuangan menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan.
Pertunjukan tersebut membawa pesan agar masyarakat tidak melupakan jasa para pahlawan dan perjuangan para pendahulu dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tidak hanya itu, Banyu Raya juga menghadirkan drama bertema sosial dan kehidupan, sehingga pertunjukan memiliki pesan yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.
Di balik kreativitas tersebut terdapat peran tokoh pemuda Giri Finansa, A.Md., yang turut menyusun sejumlah naskah drama bertema sosial, perjuangan kehidupan dan kaulinan baheula.
Kemerdekaan Dipadukan dengan Nilai Keagamaan
Rangkaian kegiatan Banyu Raya juga tidak berhenti pada semarak HUT ke-81 RI. Momentum tersebut dipadukan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Warga mengikuti kegiatan keagamaan berupa doa bersama, mahalul qiyam, serta penampilan grup qosidah Al Gofar Assa'adah yang diisi oleh ibu-ibu.
Kegiatan tersebut turut melibatkan Ustad H. Syarif Hidayatullah, S.Pd.I, Ketua RT Anwar Hidayat (Away), serta Ketua Pelaksana Aldika.
Perpaduan antara semangat kemerdekaan, nilai keagamaan, budaya Sunda dan kebersamaan warga membuat kegiatan tersebut mendapat antusiasme yang tinggi dari masyarakat.
Banyu Raya: Merayakan Kemerdekaan, Merawat Budaya
Apa yang dilakukan Banyu Raya menunjukkan bahwa perayaan di tengah masyarakat dapat dikemas lebih bermakna. Hiburan tidak harus berhenti pada tontonan, tetapi dapat menjadi ruang untuk belajar sejarah, mengenal budaya, memperkuat keagamaan dan membangun kebersamaan.
Pesan yang ingin disampaikan pun sederhana namun kuat: jangan melupakan jasa para pejuang dan jangan biarkan budaya Sunda hilang ditelan zaman.
Dengan drama, kaulinan baheula, doa bersama dan kegiatan Maulid Nabi, Banyu Raya menjadikan momentum perayaan sebagai panggung kebersamaan yang menghidupkan kembali identitas budaya dan semangat perjuangan masyarakat. ***Red






0 komentar:
Posting Komentar