SUKABUMI, agistanews.com — Di saat seluruh Indonesia larut dalam euforia peringatan Detik-Detik Proklamasi, suasana haru justru menyelimuti ruang Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Pengadilan Negeri Sukabumi, Jumat (14/8/2026). Seorang pria lanjut usia berinisial S datang dengan langkah gontai, ditemani dua anaknya. Mereka membawa beban berat: ancaman kehilangan rumah akibat sengketa kredit macet.
Musibah bertubi-tubi menghantam kehidupan S. Sejak sang istri berpulang pada 2019, kios gordeng miliknya di Pasar Pelita ikut gulung tikar. Kehilangan mata pencaharian membuatnya tak sanggup membayar kewajiban kredit kepada bank BUMN.
"Kehidupan sehari-hari hanya bergantung pada bantuan tetangga. Bahkan untuk bertahan hidup, mereka harus tidak makan selama tiga hari," ungkap advokat LBH-SON yang mendampingi. Di tengah keterbatasan, anak bungsunya yang berusia 9 tahun terpaksa putus sekolah.
Menyaksikan realitas ini, para advokat LBH-SON yang terdiri dari Dasep Rahman Hakim, Angga Prawira, Nurhikmat, dan Dendi Sudendi menyampaikan kritik pedas kepada Pemerintah Kota Sukabumi. Mereka menilai negara masih belum hadir maksimal melindungi warganya dari jerat kemiskinan struktural.
"Dalam suasana Hari Kemerdekaan, masih ada masyarakat Kota Sukabumi yang belum merdeka dari kemiskinan dan belum mendapatkan perhatian dari Pemkot Sukabumi," tegas Dasep Rahman Hakim, Pembina LBH-SON. LBH-SON mendesak pemerintah segera turun tangan memberikan solusi nyata, tidak hanya bersifat seremonial belaka.
Sepanjang tahun 2026, LBH-SON yang dinakhodai Nurhikmat ini resmi dipercaya mengelola Posbakum PN Sukabumi, melanjutkan komitmen mereka dalam memberikan akses keadilan bagi masyarakat tidak mampu.
"Kami ingin memastikan masyarakat, khususnya yang tidak mampu, tetap memiliki hak yang sama untuk mendapatkan bantuan dan perlindungan hukum," ujar Nurhikmat.
Lebih dari sekadar pendampingan perkara, LBH-SON menjadikan Posbakum sebagai ruang edukasi dan literasi hukum. Kisah S adalah bukti bahwa perjuangan membela hak-hak rakyat kecil tidak pernah berhenti, bahkan di hari paling bersejarah sekalipun. Kemerdekaan sejati adalah ketika tak ada lagi warga yang kelaparan dan kehilangan tempat berteduh di negerinya sendiri.***Densu






0 komentar:
Posting Komentar